Senin, 08 November 2010
Aku Tak Mencintaimu
Senin, 11 Oktober 2010
Aku Mencintaimu
Minggu, 10 Oktober 2010
Aku Pun Tak Seperti Yang Kau Kira
Maafkanlah Aku
Jumat, 08 Oktober 2010
Jika Tuhan Membawa Engkau Kepada Cinta...
Kamis, 07 Oktober 2010
Keindahanmu
Aku teringat dirimu
Senyummu, dan sedikit kenangan akan suaramu yang merdu
Tahukah engkau apa yang terlintas dalam hatiku
Saat memandangi foto-foto dirimu?
Ya Allah, betapa cantiknya ia!
Tak hanya keindahan yang tercipta pada siapa yang memandang
Juga (dan ini yang membuatku lebih terpesona)
Kecantikan di dalam hati yang menggetarkan jiwa
Aku membayangkan
Siapa yang akan memilikimu kelak
Adalah manusia yang paling diberkahi Allah
Di alam ini
Bantargebang, 7 Oktober 2010 21.28
Selasa, 05 Oktober 2010
Akhirnya Ku menemukanmu - Naff
saat hati ini mulai meragu
akhirnya ku menemukanmu
saat raga ini ingin berlabuh
ku berharap engkau lah
jawaban sgala risau hatiku
dan biarkan diriku
mencintaimu hingga ujung usiaku
jika nanti ku sanding dirimu
miliki aku dengan segala kelemahanku
dan bila nanti engkau di sampingku
jangan pernah letih tuk mencintaiku
akhirnya ku menemukanmu
saat hati ini mulai meragu
akhirnya ku menemukanmu
saat raga ini ingin berlabuh
Cinta Adalah...
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum
sambil berkata, Aku turut berbahagia untukmu
Siapakah Rimba?
Siapakah Rimba?
Aku menghubungimu
Dan yang kau tanyakan adalah
Apakah aku pemilik dari nama itu!
Dan aku cemburu...
Minggu, 03 Oktober 2010
Sabtu, 02 Oktober 2010
Bila Nanti Kau Milikku - Naff
Kamis, 30 September 2010
You're Still You - Josh Groban
Kau Tetaplah Engkau
Selasa, 28 September 2010
Senin, 27 September 2010
Senin, 20 September 2010
I Love You...
Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana
Minggu, 19 September 2010
Kenangan Manis?
Sabtu, 18 September 2010
Perpisahan Dengan Nina
Sebelumnya sudah kuceritakan kepadamu saat-saat pertama perjumpaanku dengan Nina. Hmm... bahkan ketika tanganku sedang menuliskan kata-kata ini pun ingatanku melayang kembali ke masa itu, masa yang sungguh tak dapat kulupakan.
Tapi semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa begitu tidak pantas untuk bersanding dengannya. Dia bagaikan sekuntum mawar indah yang belum tersentuh kumbang, begitu suci dan murni bak kertas putih tak tertulisi. Sedangkan aku? Hmmm... cukuplah diriku sendiri yang mengetahui, yang jelas aku bukanlah lelaki sempurna yang layak untuk dirinya. Sejujurnya aku sadar bahwa tak ada setitik kesempatan untuk mendapatkannya, apalagi bila melihat sikapnya setiap kali kudekati yang sungguh hanya menerbitkan kesedihan belaka di hati.
Aku pun kemudian memilih untuk sibuk dengan kehidupan pribadiku sendiri tanpa kehadirannya di hatiku (walaupun hanya Tuhan yang tahu betapa sulitnya hal itu!). Bayangannya selalu hadir, baik disengaja ataupun tidak, dan setiap kali aku melewati toko ibunya, aku selalu menyempatkan diri untuk melihatnya walaupun hanya sekejap saja, demi berharap bahwa saat itu ada sesosok makhluk indah yang sedang berada disana.
Kemudian kutahu bahwa dia melanjutkan pendidikannya ke luar pulau Jawa, yaitu Aceh. Disanalah tempat ayahnya berasal, dan disana pula dia kini tinggal bersama dengan kakaknya yang telah terlebih dahulu menetap di bumi Serambi Mekah tersebut. Aku memutuskan untuk menghubunginya sebelum semuanya terlambat, dan segera kuminta nomor telepon dari saudaranya yang masih tinggal di pemukiman yang sama denganku. Jantungku berdebar kala kutekan nomor-nomor yang sebentar lagi akan membuatku tersambung dengan suaranya... tapi kemudian kubatalkan.
Entah kenapa, aku begitu tidak mempunyai keberanian untuk berbincang-bincang dengan wanita yang kucintai! Yang aku lakukan kemudian adalah mengirimkan pesan tulisan untuk dirinya, menanyakan apakah dia sudah berangkat. Dia ternyata sedang berada di bandara, dan dari jawabannya yang singkat (yang sudah dapat kuduga sebelumnya), tahulah aku bahwa perasaannya kepadaku tetaplah seperti dulu dan tak berubah: menganggapku sama seperti lelaki lain yang berlalu sekejap saja dari kehidupannya.
Ya sudahlah. Aku sendiri telah mempersiapkan hal ini akan terjadi padaku: wanita yang kudamba akan mengacuhkanku. Siapalah aku yang menginginkannya, bukankah telah kuyakinkan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak pantas untuk bersanding dengannya? Aku pun melanjutkan kehidupanku, dan dia pun sama.

























